Selamat Datang di Web Virtual Laboratory of Plant Taxonamy Rizki, S.Si., M.P., Anggota Penggalang Taksonomi Tumbuhan Indonesia (PTTI) Dosen Program Studi Budi Daya Tanaman Hortikultura Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh dan Selebumnya di Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat. Pembina mata kuliah Morfologi Tumbuhan, Taksonomi Tumbuhan Tinggi, Ekologi Tumbuhan, email: biorizki@gmail.com

GMO Produk Rekayasa Genetika

Permasalahan Genetically Modified Organisms (GMO)  atau Produk Rekayasa Genetika

Bioteknologi dapat diartikan, penggunaan tanaman, hewan, ataupun mikroba, baik secara keseluruhan maupun sebagian, untuk membuat atau memodifikasi suatu produk mahluk hidup ataupun merubah spesies mahluk hidup yang sudah ada. Sedangkan Rekayasa genetika ialah proses bioteknologi modern dimana sifat-sifat dari suatu mahluk hidup dirubah dengan cara memindahkan gen-gen dari satu spesies mahluk hidup ke spesies yang lain, ataupun memodifikasi gen-gen dalam satu spesies.

Teknologi rekayasa genetika sudah lama dilakukan secara konservatif, seiring dengan perkembangan ilmu genetika, sepeti melalui proses perkawinan silang untuk mendapatkan bibit unggul. Perkembangan rekayasa genetika modern dilakukan dengan proses yang lebih cepat melalui rekombinan secara in vitro (di luar sel mahluk hidup) sehingga memungkinkan mencangkok (kloning) hanya satu jenis gen yang diinginkan dalam waktu yang lebih cepat.

Tanaman transgenik dibuat dengan menggunakan teknik biologi molekuler yang memungkinkan peneliti untuk mengindentifikasi gen-gen tertentu, membuat duplikatnya, kemudian menyisipkan duplikat gen tersebut ke tanaman penerima dengan menggunakan alat (yang paling umum dipakai adalah bakteri tanah, disebut Agrobacterium). Ketika sel tanaman penerima membelah diri, DNA baru dari tanaman asal (yang dibawa oleh Agrobacterium) tergandakan & terpindahkan ke dalam sel baru tersebut. Keberadaan gen baru ini akan mempengaruhi keturunan dari tanaman tersebut, baik dari segi sifatnya bahkan penampilannya. Ada pula metode lain yang digunakan, seperti Pistol Gen, atau metode Bombardir, dengan menggunakan mikroinjeksi atau pipet mikro, induksi secara kimia, fusi protoplas dan metode lainya.
Genetically Modified Organisms (GMO) atau di negara Indonesia dikenal dengan Produk Rekayasa Genetika atau PRG secara umum diartikan sebagai suatu organisme yang memiliki material genetik yang diperoleh dari teknik rekayasa genetika. Prinsip umum dalam menghasilkan PRG dilakukan dengan mengintroduksi material genetik baru ke dalam genom individu.

Penggunaan Produk ini di bidang pertanian atau yang lebih umum dikenal dengan tanaman transgenik, skala komersial telah banyak dilakukan sejak akhir tahun 1900an. Luas areal PRG dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 1996 tercatat luas areal PRG di dunia mencapai 1,7 juta ha dan pada tahun 2007 luas areal sudah mencapai 114,3 juta ha atau setara dengan 8 persen dari luas areal pertanian di seluruh dunia. Pada tahun 2000 tercatat lebih kurang 13 negara menggunakan PRG dalam peningkatan produksi beberapa komoditas pertanian Tahun 2007 lebih dari 20 negara telah menanam PRG dan Amerika Serikat sebagai negara yang memiliki areal PRG disusul Argentina, Kanada, dan China.

Di Indonesia sebenarnya telah banyak tanaman transgenik yang sedang diteliti maupun diuji di lapangan. Namun kebanyakan penelitian dan uji lapangan ini terjadi tanpa sepengetahuan masyarakat luas; bahkan oleh mereka yang tinggal di dekat lokasi percobaan itu sendiri yang dapat terkena dampaknya tidak sadar akan hal ini. Alasan percobaan tersebut perlu mendapatkan perhatian adalah karena adanya kemungkinan pencemaran genetik dari tanaman transgenik ke tanaman petani, oleh gen transgenik modifikasi dari bakteri atau virus, tergantung jenis tanaman transgenik yang diuji.

Kontroversi tentang keamanan tanaman rekayasa genetika sampai saat ini masih terus berlangsung. Sebagian orang menganggap bahwa produk ini telah memberikan manfaat yang cukup besar untuk peningkatan kehidupan dan kesejahteraan manusia, baik di sektor pertanian, pangan, industri, dan kesehatan, serta lingkungan hidup. Di sisi lain, banyak yang beranggapan bahwa keberadaan produk ini dikhawatirkan menimbulkan dampak yang merugikan bagi konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati serta kesehatan manusia. Untuk itu, melalui Konvensi Keanekaragaman Hayati diatur ketentuan mengenai kemanan penerapan bioteknologi modern dengan penetapan suatu protokol untuk mengatur pergerakan lintas batas, penanganan,

dan pemanfaatan produk rekayasa genetika. Protokol ini dikenal dengan Protokol Cartagena yang isinya secara langsung mengikat negara-negara yang telah meratifikasinya, termasuk Indonesia untuk menyiapkan dan mengembangkan peraturan perundang-undangan, mengembangkan kelembagaan dan infra struktur, menyusun sistem dan prosedur baik ditingkat pusat maupun daerah. Tanaman rekayasa genetika yang akan dimanfaatkan dan diedarkan terlebih dahulu harus dilakukan pengkajian keamanannya, jika dianggap aman untuk dikonsumsi dan dijual maka harus dilabel yang menyatakan bahwa produk tersebut hasil rekayasa genetika. Pengkajian keamanan pangan hasil rekayasa genetika meliputi informasi genetik, dan keamanan pangan.

Informasi genetik yang perlu dikaji dan dicantumkan meliputi :

  1. deskripsi umum tanaman rekayasa genetika
  2. deskripsi inangnya,
  3. deskripsi penggunaannya sebagai pangan,
  4. deskripsi organisme donor, dan
  5. karateristik modifikasi genetik
Sedangkan Informasi keamanan pangan meliputi :

  1. kesepadanan substansial,
  2. perubahan nilai gizi,
  3. alergenisistas,
  4. toksisitas, dan
  5. pertimbangan lainnya.
Pro dan kontra keberadaan tanaman rekayasa genetika di dalam negeri hanya terjadi pada tingkatan pengambil kebijakan dan Lembaga Swadaya Masyarakat, tidak terjadi pada tingkat petani selaku pelaku agribisnis. Kondisi ini, memerlukan pencermatan yang mendalam, mengingat dampak negatif yang mungkin ditimbulkan atau peluang yang mungkin dihasilkan dengan adanya tanaman rekayasa genetika ini membawa konsekuensi langsung terhadap petani.


Rizki S.Si., M.P.
Magister Program, Bioteknologi Tanaman, Universitas Brawijaya

Info Kesehatan

loading...